• Jl. Cijagra No.21, Cijagra, Kec. Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat, Bandung 40826

Mari Berqurban

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ
وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ


Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin. QS. Al-Hajj 22: Ayat 37.

Al Imam Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, mengutip perkataan Ibnu Abbas radhiallahu anhuma bahwa: "Allah tidak membutuhkan penyembelihan kurban, tetapi Dia menguji ketaatan kalian melalui perintah-Nya."

Begitupun Imam Al-Qurthubi, dalam kitab tafsirnya, mengatakan: "Allah mengingatkan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah materi kurban, melainkan niat ikhlas dan ketakwaan." Sebagaimana asy-syaikh Wahbah Az-Zuhaili, dalam kitabnya Tafsir Al-Munir, menyatakan: "Hikmah kurban adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan meneladani ketakwaan Nabi Ibrahim." Sehingga, dari beberapa pernyataan para ulama tersebut kita dapat menarik simpulan bahwa, ibadah yang kita kerjakan dalam bentuk udhiyah-tadhiyah yang insyaallah akan kita laksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah, yang kemudian dilanjut pada hari tasyrik (11-13 dzulhijjah), paling tidak haruslah mengena pada dua syarat sah ibadah, yaitu niat yang ikhlas lillahi ta'ala dan dengan cara yang sesuai dengan yang dicontohkan oleh Sang Uswatun Hasanah. Dan mengenai uswah hasanah itu sendiri, dalam Al Qur'an, hanya ada 2 Rasul yang disebutkan oleh Allah sebagai Uswah Hasanah, yaitu Nabi Ibrahim (Al Mumtahanah ayat 4 dan 6) dan Nabi Muhammad (Al Ahzab ayat 21).

Maka tidaklah terlalu musykil bagi kita, Mukmin-Muslim yang mukallaf, untuk meneladani kedua contoh tersebut sebab sejak disyari'atkannya ibadah ini hingga hari akhir nanti, ibadah kurban dapatlah disebut sebagai puncaknya pengorbanan, puncak penghambaan seorang makhluk twrhadap Sang Khalik.

Bahkan, Imam Asy-Syaukani, dalam Fathul Qadir, mengungkapkan: "Allah hanya menerima amal yang disertai keikhlasan dan mengikuti syariat.", sehingga keapikkan, ketelitian, dan kejelian kita dalam beribadah terutama terkait dengan ibadah kurban, yang hakikatnya adalah upaya kita untuk mendekatkan diri pada Sang Maha Pencipta, benar-benar diutamakan dalam aktivitas kita sehari-hari.

Demikian, dan mudah-mudahan segala amalan yang telah, sedang, dan akan kita kerjakan makin menjadikan kita mukmin yang senantiasa berusaha untuk mendekatkan diri, sebagaimana makna kurban itu sendiri secara bahasa, sehingga kita mampu mendapat mardhatillah, sebab hanya dengan ridha Allah saja surga, tempat kita kembali, dapat teraih. Wallahu'alam bishshawab.

Zakat Infaq Shodaqoh

Graha Dhuafa Indonesia senantiasa berkomitmen untuk terus ambil peran dalam menjaga generasi pelanjut.