Jl. Cijagra No.21, Cijagra, Kec. Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat, Bandung 40826
Zakat Infaq Shodaqoh
Jl. Cijagra No.21, Cijagra, Kec. Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat, Bandung 40826
Dari Khurasyah bin Hurr rahimahullah, ia menceritakan,
شهد رجل عند عمر بن الخطاب رضي الله عنه ، فقال له عمر إنى لست اعرفك و لا يضرك أنى لا عرفك فائتنى بمن يعرفك ، فقال رجل أنا أعرفه يا أمير المؤمنين ، قال بأي شيء تعرفه ؟، فقال بالعدالة ، قال هو جارك الأدنى تعرف ليله و نهاره و مدخله و مخربه ؟، قال لا، قال فعاملك بلدرهم و الدينار الذى يستدل بهما على الورع ؟، قال لا، قال فصاحبك في السفر الذي يستدل به على مكارم الأخلاق ؟، قال لا، قال فلست تعرفه ، ثم قال للرجل ائتنى بمن يعرفك.
Seseorang bersaksi di depan Umar bin Khattab radiyallahu anhu, lalu Umar berkata kepadanya, Aku tidak mengenalmu, namun tidak masalah aku tidak mengenal mu, maka datangkan orang yang mengenal mu.
Kemudian seseorang datang dan mengatakan, aku mengenalnya wahai Amirul Mu'minin.
Umar berkata, dengan apa engkau mengenalnya?.
Ia menjawab, dengan sifat adilnya (dalam sikapnya).
Umar berkata, apa ia tetangga mu yang dekat yang engkau mengenalnya siang malam yang engkau bisa keluar masuk rumah nya?.
Orang itu membawa, tidak.
Umar berkata, atau engkau pernah mempercayakan (dalam hutang atau bisnis), Dinar dan Dirham (uang), yang dengan kepercayaan itu engkau mengetahui ia seseorang yang Wara' (memiliki sifat menjaga diri)?.
Orang itu menjawab, tidak.
Umar berkata, atau engkau pernah bersafar dengan nya, yang dengan itu engkau mengetahui kemuliaan akhlaknya?.
Orang itu menjawab, tidak.
Umar berkata, bila seperti itu, engkau tidak mengenal nya, kemudian Umar berkata kepada orang itu, datangkan kepada ku, orang yang mengenal diri mu dengan baik.
Di riwayatkan oleh Baihaqi.
Ibnu Katsir mengatakan,
صفر ، سمي بذلك لخلو بيوتهم منهم ، حين يخرجون للقتال و الاسفار.
Safar, di nama kan demikian karena sepinya rumah rumah mereka dari penghuni, baik karena perang (awal bulan biasa), atau karena Safar nya mereka untuk keperluan lainnya.
Tafsir Ibnu Katsir, Dar Taibah, 4/146.
Safar oleh sebagian orang Arab di katakan bulan sial (seperti orang Jawa menganggap Suro bulan sial), di samping mereka menjadikan bulan ini awal Safar mereka untuk perang maupun keperluan lainnya (berdagang), seperti di jelaskan dalam surah Al Quraisy.
Kesialan yang di yakini oleh sebagian besar orang arab terkait bulan Safar, di jelaskan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa salam,
لا عدوى و لا طائرة و لا هامة و لا صفر.
Tidak ada keyakinan dalam Islam penyakit itu menular dengan sendirinya, tidak ada keyakinan dalam Islam terkait suara burung, juga tidak ada keyakinan dalam Islam keyakinan terkait burung hantu, maupun keyakinan sial dengan bulan Safar.
Hr Bukhari.
Ibnu Rajab mengatakan,
و اما تخصيص الشوم بزمان دون زمان كشهر صفر أو غيره فغير صحيح.
Adapun mengkhususkan anggapan sial atas satu masa yang tidak ada pada masa lainnya (keyakinan bulan sial bulan baik), seperti keyakinan sialnya bulan Safar maka hal ini tidak benar.
Lathaiful Ma'arif bab bulan Safar.
Kami (Abu abd Rahman) katakan, bahwasanya Safar juga masuk di dalamnya pembahasan indikasi seseorang itu bisa di percaya atau tidak, sebagaimana riwayat Umar bin Khattab radiyallahu di atas.
Bahwasanya, seseorang bisa di nilai kejujuran dan kebaikannya, dengan beberapa indikator:
* Sebagai tetangga dekat, yang secara naluri seseorang dapat di kenali ketika menjadi tetangga, apakah ia orang baik dalam bermuamalah atau tidak dengan tetangganya.
* Atau ia di amanahi Dinar dan Dirham (permasalahan keuangan), baik dalam menyelesaikan hutang, maupun muamalah yang lain terkait uang, karena terkait uang ini, tersingkap tabiat seseorang, apakah ia jujur atau khianat.
* Safar, yang menyingkap jati diri seseorang, dengan Safar, kita mengetahui aib aib dan kekurangan seseorang, maka hendaknya kita memohon kepada Allah untuk menutupi aib aib itu.
Inilah di antara Fawaid (pelajaran dan buah pembahasan) bulan Safar.
Zakat Infaq Shodaqoh